“Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa?”
Satu per satu menyahut,
“Dokter.”
“Pilot.”
“Professor.
Dan lain-lain. Hmm…
Hampir semua anak kecil bahkan termasuk saya sendiri, sejak kecil ingin sekali menjadi dokter, atau banyak juga yang lainnya ingin sekali menjadi pilot, dsb. Kenapa begitu? Apakah untuk cita-cita pun, anak kecil ‘disuntik’ dengan sugesti seperti sugesti kalau gadis cantik itu ya putih, tinggi, dan berambut panjang?
Mungkin karena menjadi dokter itu merupakan impian semua orang, di mana dokter menjadi sosok penolong layaknya peri dalam dongeng yang mampu menolong orang yang sedang sakit, atau, mungkin karena menjadi seorang dokter itu jaminan sukses. Pintar sekaligus pangkal kaya raya, karena memang seminim-minimnya keringat dokter, upahnya tidaklah seadanya. Begitu pula dengan pilot, dsb. Mungkin ya. Ini persepsi saya. Dan yang saya tulis selanjutnya, merupakan tulisan menurut kacamata seorang mahasiswa biasa yang tidak cum laude dan juga tidak bodoh.
Bicara soal cita-cita, jelas tidak ada satupun profesi yang lebih unggul dari profesi lainnya. Yang ada hanya kita sendiri bisa atau tidak mempersiapkan segala sesuatunya kelak untuk menjalankan profesi yang kita pilih itu? Terdorong oleh berbagai macam faktor, termasuk dari dalam maupun luar diri, akan lahir jati diri seseorang, yang ditanam sejak kecil hingga waktu di mana kita harus menentukan kita mau jadi apa, sehingga hal itulah yang akan kita gunakan untuk memilih dan menjalaninya. Kita mau jadi apa, apa yang kita punya, dan apa yang harus kita lakukan untuk mencapainya. Kemudian setelah tercapai, bagaimana kita menjalaninya. Ya semacam self development-lah. Nah, sekarang, sudahkah kita memilih jalan yang tepat untuk mencapai profesi tersebut?
Menginjak masa-masa kritis di bangku kuliah, penulis semakin dekat dengan keadaan di mana kita sebagai mahasiswa, harus bertanggung jawab dengan apa yang kita pilih. Jadi gak ada deh tuh istilah ‘salah jurusan’ dan semacamnya. Kalau kita ngerasa ‘salah jurusan’, berarti kitanya aja yang gak cocok di jurusan itu. This is so simple. Selain itu, gak ada yang namanya ‘orang bodoh’, yang ada hanya orang yang tidak serius dan tidak yakin dengan apa yang harus dipilih, dan apa yang harus dijalani setelahnya. Ya, sekali lagi, tidak ada orang bodoh di dunia ini, yang ada hanya orang yang tidak serius.
Kalau bicara soal profesi, ada banyak sekali profesi yang ada di dunia ini. Profesi apapun semuanya sama kan, sama-sama bisa jadi sukses apabila pemerannya, yaitu kita sendiri, menjalaninya dengan serius dan memang sesuai dengan keinginan kita, karena gak mungkin kan misalnya seseorang yang senang sekali dengan mesin gak mau kuliah Teknik Mesin? Mungkin banyak yang berfikir kalo mau sukses itu ya jadi dokter, jadi akuntan, jadi insinyur, atau jadi artis, dsb. Apa kita pernah berfikir, kalau profesi seperti tukang kerupuk sekalipun bisa menghasilkan sesuatu yang tidak biasa? Seseorang bisa sukses hanya dengan berjualan kerupuk setiap hari!
Menyambung paragraf sebelumnya, apapun cita-cita yang kita rasa cocok dengan kita, apapun cita-cita yang kita suka, ya kita sendiri kan yang merasakan dan kemudian menentukan. Setelah itu, kalau kita jalani dan mengikuti arusnya, sepertinya kita tidak akan merasa terbebani setiap kali menjalaninya. Pernah saya mendengar sebuah pepatah yang bunyinya,
“Apabila kita mengerjakan sesuatu yang kita sukai, maka niscaya kita tidak akan merasa bekerja selamanya.”
Contoh lain. Pelukis. Apa pernah seorang pelukis mengeluh karena lelah melukis? Dengan rasa cinta yang begitu besar dengan melukis, seorang pelukis akan menjadi seseorang yang akan membawanya mendapatkan apa yang ia inginkan. Misalnya juga, menjadi musisi atau seniman. Banyak sekali orang yang menyepelekan orang-orang yang hanya bergelut pada musik, atau karya seni semata. Apa mereka tahu, kalau profesi berpenghasilan terbesar saat ini bukan lagi dokter, tapi musisi!
Entah anda akan menyebut tulisan ini berubah bentuk menjadi persuasif atau tidak. Saya hanya ingin meluruskan persepsi yang selama ini seperti membelok dari fakta yang ada. Ya yang namanya hidup kalau tidak berdasarkan fakta mau gimana lagi? Masa mengada-ngada keadaan? Saya yakin sekali semua orang bisa sukses. Mungkin mustahil, tapi dalam memilih cita-cita, menurut pengalaman saya, penting sekali kita menggunakan instinct sebelum memilih. Entah dari mana datangnya, instinct itu perasaan yang akurat. Bukan dari bertapa di goa, apalagi datang ke dukun. Just listen to your heart.
Saya ingin sekali mengatakan, apapun yang kita suka dan kita pilih, tinggal jalani dan nikmatin deh hasilnya nanti. Entah kenapa saya percaya akan hal itu. Jadi tidak perlu ragu-ragu dan bingung kita mau jadi apa biar sukses, karena lucu saja kalau kita harus menjadi profesi tertentu saja kalau mau sukses. Yang namanya jati diri, itu pemberian dari Tuhan, pintar-pintar mengenal diri sendiri karena itu semua bekal, dan Tuhan gak mungkin melarang kita untuk sukses.
Terakhir, dan sedikit menekankan, kalau ada orang yang berpandangan kuno kalau mau sukses itu harus pintar, ingatkan saja kepadanya bahwa dunia ini tidak ada orang yang bodoh, kalau ingin sukses ya hanya mengikuti apa yang kita cintai dan menjalaninya sesuai dengan keinginan kita, tentu masih dengan batasan-batasan yang ada, karena dunia ini bukan kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang yang mau berusaha dan tidak mudah menyerah. Kalau ada orang-orang yang menganggap bahwa kelak kita hanya akan menjadi manusia yang sia-sia hanya karena kita tidak sejalan dengan mereka yang lebih unggul, katakan saja,
“Memang kita kembar? Memang tujuan kita harus sama? This is me, that is you. Mungkin tujuan kita sama, tapi jalan kita belum tentu sama. Dan anda, bukanlah Tuhan.”
Note to my self:
Pilih dan yakini yang sudah dipilih, jalani dan selalu yakin untuk tetap menjalani, tidak ada usaha yang sia-sia dan sekecil apapun itu pengorbanan tetaplah pengorbanan. Setelah itu, yakini kalau buah manis menunggu, segala usaha pasti membuahkan hasil, meskipun hidup bukan untuk mendapatkan hasil saja, tapi juga untuk belajar dari proses yang menjadi bahan pelajaran untuk menghadapi hal yang lainnya.
Maaf apabila ada kata-kata yang tidak berkenan.
-RW-
04 Januari 2012.